SUARAREPUBLIK.Co, Bandar Lampung – Aksi massa yang digelar oleh Aliansi FEB Menggugat di pelataran Gedung Dekanat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung (Unila), Senin (26/5), menyoroti secara tajam dugaan pembungkaman yang dilakukan pihak Dekanat terhadap kasus kekerasan dan pelanggaran etik di lingkungan Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) FEB.
Sejak pukul 08.00 WIB, massa telah berkumpul di area kampus dan mulai bergerak menuju pelataran Dekanat FEB pada pukul 10.00 WIB. Aksi ini merupakan bentuk protes mahasiswa terhadap berbagai persoalan yang dinilai telah lama dibiarkan, mulai dari minimnya transparansi, ketimpangan struktural, buruknya fasilitas kampus, hingga pembiaran terhadap kekerasan dan intimidasi oleh oknum pengurus Ormawa.
Isu sentral dalam aksi tersebut adalah dugaan kekerasan yang disertai intimidasi dan pembungkaman terhadap korban. Massa menilai dekanat tidak menjalankan peran perlindungan serta penegakan etika sebagaimana mestinya.
“Berdasarkan bukti rekam medis, pernyataan korban dan keluarga, serta bukti percakapan digital, telah terjadi kekerasan dan intimidasi. Namun hingga hari ini, tidak ada tindakan tegas dari dekanat. Ini adalah bentuk pembiaran dan pembungkaman terhadap korban,” tegas Jenderal Lapangan aksi, M. Zidan Azzakri.
Dalam aksinya, Aliansi FEB Menggugat menyampaikan empat tuntutan utama kepada pihak dekanat:
-
Membubarkan Ormawa yang terbukti melakukan kekerasan dan pelanggaran etik;
-
Mengadili pelaku kekerasan sesuai prosedur hukum dan etika kampus;
-
Menyampaikan klarifikasi publik secara terbuka;
-
Menghentikan segala bentuk intimidasi dan pembungkaman terhadap korban.
Pertemuan langsung antara massa aksi dengan Dekan, Wakil Dekan I, dan Wakil Dekan III yang berlangsung pukul 10.30 WIB dinilai tidak menghasilkan kemajuan berarti. Dekanat menolak menandatangani Pakta Integritas yang diajukan oleh mahasiswa sebagai bentuk komitmen terhadap tuntutan.
“Penolakan untuk menandatangani Pakta Integritas menunjukkan sikap tidak serius dan arogan dari pimpinan fakultas terhadap persoalan ini,” lanjut Zidan.
Selain menyoroti kekerasan, mahasiswa juga menuntut transparansi pengelolaan keuangan, evaluasi menyeluruh terhadap kinerja staf kampus, serta peningkatan fasilitas akademik yang selama ini dianggap minim dan tidak merata—terutama di Gedung F, yang kekurangan AC, proyektor, dan komputer pendukung pembelajaran.
Aksi yang berakhir pada pukul 12.00 WIB tersebut belum menghasilkan langkah konkret dari pihak dekanat. Oleh karena itu, Aliansi FEB Menggugat menyatakan akan melanjutkan aksi dalam waktu dekat dengan skala yang lebih besar, serta mengajak seluruh elemen mahasiswa Unila untuk bersatu dalam perjuangan ini.
“Tekanan kami sepenuhnya ditujukan kepada Dekanat FEB Unila. Kami tidak akan berhenti sampai Dekan dan jajarannya menunjukkan tanggung jawab dan komitmen terhadap keadilan dan kebenaran,” tegas Zidan dalam pernyataan penutupnya.













