Beranda / Lampung / Lapor Pak Pj. Gubernur!!  Pelayanan RSUD Abdul Moeloek Buruk??

Lapor Pak Pj. Gubernur!!  Pelayanan RSUD Abdul Moeloek Buruk??

Bandarlampung,-Pasien Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Abdul Moeloek (RSUDAM) mengeluhkan pelayanan tak mengenakan. Hal ini diungkapkan oleh keluarga dan pasien bernama TN sejak masuk di Ruang Instalasi Gawat Darurat sampai penanganan saat dirawat inap. Padahal, Penjabat (Pj) Gubernur Lampung sudah memperingatkan RSUDAM untuk mengubah Pola Pelayanan Kesehatan Kepada Masyarakat. Pj Gubernur Lampung pun meminta RSUDAM agar memperhatikan masalah tata cara penerimaan pasien, etika pelayanan, kesopanan, keramahan dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Bertolak belakang dengan hal itu. Pelayanan Buruk kembali muncul di RSUDAM. Menurut pantauan wartawan, seorang Pasien bernama TN masuk Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) menjelang maghrib pada Minggu (12/01) sebagai pasien yang berharap mendapatkan penanganan serius atas penyakit parah yang dideritanya. Beberapa saat menunggu, TN dihampiri seorang Dokter Jaga, TN diberikan pertanyaan mengenai keluhan dan riwayat penyakitnya. Namun, TN diberi opsi bahwa dirinya kemungkinan tidak dirawat inap dikarenakan kondisi fisik TN dinilai sehat. Sedangkan TN datang jauh-jauh dari pelosok desa dengan harapan mendapatkan diagnosa tepat dan penanganan fasilitas medis yang tidak terdapat di daerah ia berdomisili.

TN pun terperanjat dan kaget karena dokter jaga mengatakan bahwa opsi untuk dirawat atau tidaknya tergantung dokter yang kompeten untuk menangani penyakitnya. Lalu, secara objektif, menurut dokter jaga, pasien tidak perlu dirawat inap. Sedangkan kondisi pasien TN diketahui mengidap tumor pada mata. Pasien saat itu merasakan kesakitan hebat pada sekitar kepala dan matanya.

Keluarga pasien pun heran atas pernyataan dokter jaga tersebut. Sedangkan yang diperiksa hanya sebatas denyut jantung dan pemberian pertanyaan-pertanyaan terhadap pasien seputar keluhannya tanpa diagnosa onkologi. Memang, pada umumnya istilah atau jargon kedokteran tidak melulu dimengerti oleh semua orang. Masyarakat yang datang ke Rumah Sakit pada umumnya adalah orang yang berharap mendapatkan solusi atas penyakitnya. Berharap mendapatkan penanganan serius oleh paramedi. Bukan sekedar ditanya, dicek denyut jantung, dilihat-lihat saja kemudian disimpulkan sebagai orang sehat agar dapat pulang untuk kemudian datang kembali keesokannya. Pasien pun mengeluhkan sikap dokter jaga yang terkesan arogan dan tergesa-gesa dalam menyimpulkan keadaan pasien.

“Kami ini orang bodoh jauh dari pelosok memang sudah takut mau masuk Rumah Sakit Umum. Karena cerita orang, Rumah Sakit Umum mah pelayanannya buruk. Ini aja dokternya cuma datang 1 kali. Saya kemudian dibawa ke ruangan untuk diperiksa. Setelah itu diberitahu bahwa penyakit saya cuma bisa ditangani di rumah sakit pusat. Disini gak bisa nangani. Terus mau dirujuk. Sudah gitu aja”, terang Pasien TN yang masuk IGD pukul 17.30an, mendapatkan kamar Pukul 23.00 dan Pulang Hari Rabu sore.

Hal ini menimbulkan keraguan besar atas kredibilitas Rumah Sakit Milik Pemerintah Propinsi Lampung ini. Bagaimana mungkin dengan anggaran yang mendapat jaminan dari negara, bisa memberikan pelayanan yang lebih tidak nyaman dibandingkan Rumah Sakit Swasta? Ini bukan tentang fasilitas yang ada, Tapi lebih ke keseriusan, etika dan pelayanan.

Pada kesempatan lain, Wartawan juga mendapatkan aduan atas pelayanan saat sudah berada di Ruang Rawat Inap. Di ruang Onkologi, terdapat pasien yang mengeluhkan molornya pemeriksaan. Keluarga salah satu pasien mengeluhkan jadwal pemeriksaan yang tidak tepat waktu dan tanpa kejelasan. Keluarga pasien terlihat marah-marah di ruangan karena pelayanan yang terkesan masa bodoh, hingga akhirnya pasien memutuskan untuk minta dipulangkan.

Diketahui, RSUDAM sudah menjadi Rumah Sakit Kelas A dan menjadi Rumah Sakit rujukan tertinggi di Provinsi Lampung yang terakreditasi PARIPURNA. RSUDAM menyandang status Tipe A untuk Rumah Sakit Pendidikan. Ini merupakan peningkatan dari status sebelumnya, Kondisi ini membuat RSUDAM dapat menjadi wahana Pelatihan dan Pendidikan Medis dengan Tingkat Internasional.

Jika merujuk pada sertifikasi yang diperoleh tersebut, nampaknya ini kontradiksi dengan apa yang ada di lapangan. Penanganan yang bertele-tele dan terkesan masa bodoh juga masih kerap bermunculan di RSUDAM mulai dari IGD, Pelayanan di Ruang Rawat Inap, sampai Pelayanan Berkas BPJS.

“Iya mas memang beda Rumah Sakit Umum dengan Swasta. Kalo di swasta, perawat mondar mandir lihat pasien, bawa obat, nanya kondisi. Ini mah kita masih disuruh ngambil obat ke depan. Dokternya juga datangnya gak bisa ditentukan. Kalo soal fasilitas ruangan ya alhamdulillah sudah banyak peningkatan. Pelayanannya ini waduh bikin yg sehat jadi sakit”, keluh DS, keluarga salah satu pasien yang dirawat inap di RSUDAM.

Sepertinya memang perlu ada evaluasi yang dalam dan terperinci terhadap pelayanan dokter, prosedur dan aturan di RSUDAM. Apa penyebabnya? Apakah hanya perilaku oknum? Atau memang mengular ke semua sudut di RSUDAM? Jangan sampai penilaian buruk terus bermunculan akibat ulah beberapa oknum yang sekedar ngantor tapi lalai terhadap tugasnya. (Kodarsyah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page