SUARAREPUBLIK, Bandar Lampung — Pemerintah Kota Bandar Lampung memperkuat pengawasan harga dan ketersediaan beras di pasaran menyusul harga gabah di Lampung yang telah menembus Rp8.000 per kilogram di tingkat pabrik.
Kenaikan harga gabah tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi dan berdampak terhadap harga beras di tingkat konsumen. Namun, berdasarkan pemantauan Pemerintah Kota Bandar Lampung, harga beras hingga saat ini masih relatif stabil.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Bandar Lampung, Erwin, mengatakan pemantauan dilakukan melalui Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Bahan Pokok (Siagabapok).
Berdasarkan pemantauan periode 18 Agustus hingga 3 September 2026, harga beras masih berada dalam batas terkendali.
“Untuk beras medium rata-rata berada di kisaran Rp12.414 per kilogram, sedangkan beras premium sekitar Rp16.316 per kilogram. Sampai saat ini belum ada kenaikan harga yang signifikan di Bandar Lampung,” kata Erwin, Kamis, 3 September 2026.
Meski harga gabah di tingkat pabrik telah meningkat, Pemkot Bandar Lampung tetap memantau perkembangan harga beras untuk mengantisipasi kemungkinan dampaknya terhadap konsumen.
Pengawasan juga dilakukan untuk memastikan pasokan beras di pasar tetap tersedia. Pemkot Bandar Lampung terus berkoordinasi dengan Perum Bulog, termasuk dalam menjaga ketersediaan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
“Stok SPHP aman. Kami terus berkoordinasi dengan Bulog, termasuk meminta dukungan operasi pasar apabila diperlukan,” ujarnya.
Selain pengawasan harga dan pasokan, Pemkot Bandar Lampung bersama Bulog memperluas penetrasi pasar melalui operasi pasar di tingkat kecamatan.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat dapat memperoleh beras dan minyak goreng dengan harga yang diupayakan tetap terjangkau.
“Kami sedang melakukan penetrasi pasar dengan menjual beras dan minyak goreng di tingkat kecamatan agar harga tetap terjaga dan masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau,” jelas Erwin. ()

